Tuesday, January 16, 2024

SIHIR

 


بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعي

Sihir bermacam-macam jenisnya. Dan sihir yang merupakan kesyirikan adalah sihir yang terjadi dengan meminta pertolongan kepada syaithān.

Padahal syaithān tidak akan menolong seseorang kecuali setelah melakukan perkara yang dia ridhai, yaitu kufur (kāfir) kepada Allāh, dengan cara:

🎍 Menyerahkan sebagian ibadah kepada syaithān tersebut.
🎍 Atau dengan Menghina Al-Quran.
🎍 Atau dengan Mencela agama.
🎍 Dan sebagianya.

Allāh berfirman:

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Dan bukanlah Sulaiman yang kafir, akan tetapi syaithān-syaithānlah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (Al-Baqarah 102)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

7 Dosa Besar

“Jauhilah 7 perkara yang membinasakan.”
Para shahābat bertanya, “Ya Rasūlullāh, apakah 7 perkara tersebut?”
Maka Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan 7 Perkara:
“Syirik kepada Allāh, sihir,…(dst).”.

7 Dosa Besar

Hukuman bagi seorang tukang sihir jenis ini adalah hukuman mati bila dia tidak bertaubat, sebagaimana telah dicontohkan oleh para shahābat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. 📌 Adapun yang berhak untuk melakukan hukuman tersebut adalah pemerintah yang sah  bukan individu – individu.

Mempelajari sihir termasuk perkara yang diharamkan. Bahkan sebagian ulama menghukumi pelakunya keluar dari Islam.

Demikian pula meminta supaya disihirkan juga perbuatan yang haram karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa bukan termasuk pengikut Beliau orang yang menyihir dan orang yang meminta disihirkan.

Sebagaimana dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar di dalam Musnadnya dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullāh. 

Seorang Muslim hendaknya mengambil sebab untuk membentengi diri dari sihir. Diantaranya adalah:

        1⃣ Dengan menjaga dzikir-dzikir yang di syariatkan, seperti:

🎍 Dzikir pagi & petang
🎍 Dzikir-dzikir setelah shalat 5 waktu
🎍 Dzikir akan tidur
🎍 Dzikir mau makan
🎍 Dzikir masuk & keluar rumah
🎍 Dzikir masuk & keluar kamar kecil
🎍 Dan lain-lain.

2⃣ Dan membersihkan diri dan rumah dari perkara-perkara yang membuat ridha syaithān, seperti:

🎍 Jimat-jimat
🎍 Musik-musik
🎍 Gambar-gambar makhluk bernyawa
🎍 Dan lain-lain.

3⃣ Apabila qaddarullāh terkena sihir maka hendaknya dia :

🎍 Bersabar
🎍 Merendahkan diri kepada Allāh.
🎍 Memohon darinya kesembuhan, dan
🎍 Berpegang dengan ruqyah-ruqyah yang disyariatkan.

❌ Serta jangan sekali-kali berusaha untuk menghilangkan sihir dengan cara meminta bantuan Jin, baik secara langsung maupun lewat Dukun, Paranormal dan yang semisal dengan mereka.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’ālā melindungi kita dan juga keluarga kita dari semua kejelekan di dunia dan juga di akhirat.

و صلى الله على نبينا محمد و على آل نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين.

Oleh : Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

BERLEBIHAN TERHADAP ORANG SHALIH ADALAH PINTU KESYIRIKAN

 



📚 Orang shalih adalah orang yang baik karena mengikuti syariat Allāh Subhānahu wa Ta’āla, baik di dalam hal aqidah, ibadah maupun muamalah. 📚 Mereka memiliki derajat yang berbeda-beda di sisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Sebagai seorang Muslim kita diperintahkan untuk:

❤ Mencintai mereka.
❤ Mengikuti jejak mereka di dalam kebaikan.

🔖 Berteman dan bermajelis dengan mereka adalah sebuah keberuntungan 🔖 membaca perjalanan hidup mereka bisa menambah keimanan dan meneguhkan hati 🔖 Menghormati mereka adalah diperintahkan selama masih dalam batas-batas yang diizinkan agama.

Namun berlebih-lebihan terhadap orang shalih, seperti :

⛔ Mendudukkan mereka di atas kedudukannya sebagai manusia. Atau,
⛔ Mensifati mereka dengan sifat-sifat yang tidak pantas kecuali untuk Allāh.

📌 Maka ini hukumnya HARAM dan tidak diperbolehkan menurut agama, karena hal ini dapat menjadi pintu terjadinya kesyirikan dan penyerahan sebagian ibadah kepada selain Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

📌 Mencintai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melebihi cinta kita kepada kedua orang tua, anak dan semua manusia adalah sebuah kewajiban agama, sebagaimana disebutkan di dalam hadits yang di riwayatkan oleh HR Imam Bukhari dan juga Imam Muslim :

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

(Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dia cintai dari pada orangtua nya, anak nya dan seluruh manusia)

🖍 Namun beliau Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau yaitu dengan mendudukkan Beliau di atas kedudukan Beliau yang sebenarnya, yaitu sebagai hamba Allāh dan seorang Rasul.

Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

 لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

“Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan terhadap ‘Īsā bin Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba-Nya maka katakanlah. ‘Hamba Allāh dan Rasul-Nya’.”(HR. Bukhari)

🚫 Beliau adalah seorang hamba maka tidak boleh disembah. Dan,
🚫 Beliau adalah seorang rasul maka tidak boleh dicela dan diselisihi.

📌 Apabila berlebih-lebihan terhadap sebaik-baik manusia saja yaitu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak diperbolehkan, maka bagaimana dengan yang lain ?

Diantara bentuk ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang yang shalih adalah :

1⃣ Meyakini bahwa mereka mengetahui ilmu ghaib, atau
2⃣ Membangun di atas kuburan mereka, atau
3⃣ Beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā di samping kuburan mereka
4⃣ Dan lain-lain.

❌ Dan yang paling parah adalah menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka.

🕋 Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah yang ke-14 dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

 وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

Oleh : Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A

Monday, January 15, 2024

SYAFAAT

 


بسم اللّه الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله وصحبه أجمعين

🔰 Syafā’at adalah meminta kebaikan bagi orang lain di dunia maupun di akhirat.
🔰 Allâh dan Rasul-Nya telah mengabarkan kepada kita tentang adanya syafā’at pada hari kiamat.
🔰 Diantara bentuknya adalah bahwasanya Allāh mengampuni seorang muslim dengan perantara do’a orang yang telah Allāh izinkan untuk memberikan syafa’at.

🔖 Syafa’at akhirat harus kita imani dan kita berusaha untuk meraihnya.
🔖 Adapun modal utama untuk mendapatkan syafā’at akhirat adalah bertauhid dan bersihnya seseorang dari kesyirikan.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda ketika beliau mengabarkan tentang bahwasanya beliau memiliki syafā’at pada hari kiamat, beliau mengatakan:

فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ الله مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لا يُشْرِكُ بِالله شَيْئًا

“Syafa’at itu akan didapatkan insyā’ Allāh oleh setiap orang yang mati dari umatku yang tidak menyekutukan Allāh sedikitpun.” (Hadits Shahih Riwayat Muslim)

Merekalah orang-orang yang Allāh ridhai karena ketauhidan yang mereka miliki.

Allâh berfirman:

…وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ…

“…Dan mereka (yaitu para nabi para malaikat dan juga yang lain) tidak memberikan syafā’at kecuali bagi orang-orang yang Allāh ridhai…”. (Surat Al-Anbiyaa’ 28)

🔖 Syafā’at di akhirat ini berbeda dengan syafā’at di dunia.
🔖 Karena seseorang pada hari kiamat tidak bisa memberikan syafā’at bagi orang lain kecuali setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā, sampai meskipun dia seorang nabi atau seorang malaikat sekalipun.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’ālā :

ﻣَﻦ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻳَﺸْﻔَﻊُ ﻋِﻨﺪَﻩُۥٓ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫْﻧِﻪِۦ ٓ

“Tidaklah ada yang memberikan syafa’at di sisi Allāh Ta’ālā kecuali dengan izin-Nya.” (Al-Baqarah 255)

🔖 Oleh karena itu permintaan syafā’at hanya ditujukan kepada Allāh, Zat yang memilikinya. Seperti seseorang mengatakan di dalam  do’anya, “Ya Allāh, aku meminta syafa’at Nabi-Mu .” Ini adalah cara meminta syafā’at yang diperbolehkan.

🔖 Bukan dengan meminta langsung kepada Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam seperti mengatakan, “Ya Rasūlullāh, berilah aku syafā’atmu.” Atau dengan cara menyerahkan sebagian ibadah kepada makhluk dengan maksud meraih syafā’atnya.

🚫 Karena cara seperti ini adalah cara yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin zaman dahulu.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ﻭَﻳَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻀُﺮُّﻫُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻬُﻢْ ﻭَﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻫَٰﺆُﻟَﺎﺀِ ﺷُﻔَﻌَﺎﺅُﻧَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺗُﻨَﺒِّﺌُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻟَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ۚ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰٰ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥ

“Dan mereka menyembah kepada selain Allāh, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberikan manfaat dan mereka berkata: “Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh”. Katakanlah: “Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allāh sesuatu yang Allāh tidak ketahui di langit maupun di bumi?”. Maha Suci Allāh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.” (surat Yunus 18)

Itulah yang bisa kami sampaikan pada halaqoh kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya.

وبالله التوفيق والهداية.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

SIHIR

  بسم اللّه الرحمن الرحيم السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعي Sihir bermacam-mac...